Jumat, 31 Januari 2020

Review Novel Hati Suhita

KETEGUHAN HATI WANITA
REVIEW NOVEL HATI SUHITA

Judul: Hati Suhita
Penulis: Khilma Anis
Editor: Akhiriyati Sundari
Penyunting: Asfi Diyah
Penerbit: Telaga Aksara, Mazaya Gedia
Tahun Terbit: 2019
Tebal Novel:405 Halaman
Genre: Novel Fiksi, Romantis Religi
ISBN: 978 – 602 – 51017 – 4- 8

Banyak hal menarik yang dibahas dalam novel ini, sehingga banyak pengetahuan yang diperoleh pembaca, seperti tentang pengetahuan tentang ilmu sejarah dan kebudayaan, khususnya kebudayaan jawa dan wayang yang penuh hikmah didalamnya. Penulis  sangat piawai dalam mengolah kata dan kalimat sehingga dengan mudah pesan – pesan bisa tersampaikan kepada pembaca.
Dalam novel ini tidak hanya menggambar satu sudut pandang saja, tapi lebih, yaitu Alina Suhita, Abu Raihan Al Birruni, Ratna Rengganisa.  Seluruh  lakon dalam novel ini semua disampaikan oleh penulis dengan menggambarkan tokoh – tokoh dalam dunia pewayangan.
Dalam Novel disebutkan Alina Suhita dan Abu Raihan Al Birruni, keduanya adalah pasangan suami istri yang telah dijodohkan kedua orangtuanya, yaitu Kyai Jabbar Mojokerto dan Kyai Hannan Kediri, sejak Alina masih usia sekolah, karena kedua kyai tersebut bersahabat baik maka mereka bersepakat untuk menjodohkan anaknya yaitu Alina dan Gus Birru. Latar belakang dari cerita dalam novel ini adalah kehidupan keluarga pesantren yang sama – sama memiliki pondok pesantren yang sangat besar. Alina yang sejak kecil segala sesuatunya sudah ditentukan mulai dari dimana dia sekolah, kemana dia harus mondok dan ke kampus mana dia harus melanjutkan kuliah, bahkan jurusan yang ditekuni juga sudah ditentukan, bahkan dia juga harus rela berpindah jurusan dan tempat mondok ketika dia sudah memasuki semester akhir, tapi dengan besar hati Alina mau menuruti.
Sejak awal perjodohan, Gus Birru panggilan Akrab dari Abu Raihan Al Birruni, dia tidak bisa menerima hal itu, karena menurutnya ini adalah bertolak belakang dengan apa yang selama ini disuarakan, yaitu tentang kebebasan. Walaupun demikian, dia tetap menerima perjodohan yang sudah disepakati kedua orang tua. Sejak awal pernikahan kehidupan rumah tangga Alina dan Gus Birru penuh dengan lakon drama, meski mereka tingga sekamar, tapi mereka selalu dingin dan tak pernah tegur sapa, mereka berdua hanya berpura – pura romantis dihadapan Abah dan Umik saja, sehingga kedua orang tua mereka beranggapan kalau dalam keadaan baik – baik saja. Tujuh bulan usia pernikahan, mereka belum melakukan sebagaimana mestinya pasangan suami istri, Ada hal lain yang menjadikan Gus Birru berlaku dingin kepada Alina, yaitu tentang masih terbayangnya dengan kekasih lamanya yang sulit dia lupakan, yaitu Ratna Rengganis, baginya Rengganis adalah wanita yang sangat agung dan cerdas,  karena bisa mengerti tanpa dijelaskan tentang apa yang dimau dan dimaksud oleh Gus Birru, banyak kisah yang dilalui mereka berdua semasa menyelesaikan pendidikan keduanya di Yogyakarta, banyak kisah yang mereka rajut bersama tapi mereka menyembunyikan kisah kasihnya dari Abah dan Umik Gus Birru, karena memang sejak awal Gus Birru sudah diwanti – wanti agar tidak menjalin kasih dengan wanita lain, karena jodoh Gus Birru sudah disiapkan, hanya nunggu waktu yang tepat untuk menyatukan keduanya yaitu Alina dan Gus Birru. Namun, jiwa lelaki Gus Birru tidak bisa dibohongi ketika dia bertemu dengan seorang wanita yang bisa mengerti dan memahami diri Gus Birru yaitu ratna Rengganis, hanya saja dia bukan datang dari keluarga pesantren yang jauh beda dengan Alina Suhita. tapi pada akhirnya mau tidak mau Rengganis harus siap menerim perjodohan Gus Birru dengan wanita lain, walaupun dengan hati terluka tapi Rengganis selalu berlaku ceria seolah tabah dan tegar menerima keadaan tersebut.  Hari – hari Alina dan Gus Birru dilalui dengan saling diam, keduanya seperti memiliki dunia dan kehidupan sendiri meski tinggal dalam satu kamar. Alina hanya bisa diam, tidak bisa berkata lebih, dia sangat memahami keadaan kalau suaminya belum bisa menerimanya dengan sepenuh hati, bahkan sangat terang – terangan dia sering mendengar perkataan pahit dari suaminya langsung terkadang pula dia mengetahu secara langsung suaminya telfon ke wanita pujaan hatinya dulu. Alina selalu mengingat ajaran – ajaran dari kedua orang tuanya dan ajaran – ajaran filosofi jawa yang diajarkan oleh mbah kungnya. Orang tuanya selalu memberi pesan tujuannya juga disuruh untuk meniati mondok lagi sehingga harus terus dan berusaha untuk mengabdi sepenuh hati lahir bathin kepada keluarga tersebut. Sebagai wanita yang tak luput dari rasa gelisah dan merana, dia juga sering menangis ketika melihat kelakuan dari suaminya itu. Alina tak pernah melaporkan kelakuan  suaminya baik ke mertuanya ataupun ke orang tua kandungnya sendiri. Alina pandai menyimpan seluruh rasa dalam tabah tentang segala sesuatu yang dialaminya. Tak pernah berhenti dia memanggil nama Abu Raihan Al Birruni dalam setiap munajatnya. Memohonkan agar luluh hati suaminya terhadap dirinya. Doa – doa terus diucapkan untuk memohonkan suaminya. Dalam sabar dan tabahnya Alina, akhirnya terbuka sudah hati Gus Birru terhadap Alina, Alina yang memutuskan meninggalkan rumah mertuanya tersebut dan menuju ke rumah mbak kung di luar kota, hal tersebut menjadikan Gus Birru kebingungan, keluarganya juga turut bingung dan terus menanyakan sebenarnya ada apa diantara keduanya, karena selama ini Alina tidak pernah melakukan hal senekat tersebut, kepergian Alina dari rumah menyadarkan Gus Birru bahwa istrinya itu memang wanita yang tulus  dan tepat untuknya, setelah melawan gejolak batin yang dirasakan selama ini tentang Alina, selama tujuh bulan Gus Birru terus berusaha untuk memberi cintanya secara penuh kepada Alina, tapi selalu bayang – bayang Rengganisa selalu mengitari benaknya, sehingga  usahanya selalu gagal. Kemudian Gus Birru menyusul istrinya, dan mengakui segala kesalahannya selamanya secara terang dihadapan Alina dan berjanji untuk melupakan tentang masa lalunya dan berusaha sepenuhnya untuk Alina. Dan Akhirnya Gus Birru memberikan cintanya kepada Alina secara penuh dan menyuluruh. Keduanya merasakan dan melaksanakan sebagaimana semestinya suami istri secara tenang,dan sadar. Seluruh doa Alina terkabulkan, mereka bahagia menyatu dalam ketentraman.
Novel Hati Suhita ini sangat baik untuk dibaca, karena menggunakan bahasa yang mengalir dan mudan dipahami. Menurut saya, dalam novel ini tidak ada tokoh antagonis, karena semua memiliki kisah yang sama – sama mengharukan, mereka semua berjuang semua tokoh memilik karakter yag kuat.
Banyak hikmah yang disampaikan dalam novel ini yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari – hari khususnya dalam kehidupan berumah tangga, yaitu seperti keteguhan hati, kesabaran diri yang seluas  samudera tanpa tepi, dan adanya keterbukaan dengan pasangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Review Novel Hati Suhita

KETEGUHAN HATI WANITA REVIEW NOVEL HATI SUHITA Judul: Hati Suhita Penulis: Khilma Anis Editor: Akhiriyati Sundari Penyunting:...